Kabar Terkini
light_mode
Beranda » Artikel » Anak Krakatau Kembali Menggeliat, Mungkinkah Gempa Besar dan Tsunami Terjadi?

Anak Krakatau Kembali Menggeliat, Mungkinkah Gempa Besar dan Tsunami Terjadi?

  • account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • visibility 43
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bagikan

KABARKABARIN.COM – Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Erupsi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, disertai suara dentuman, getaran, lontaran material vulkanik hingga kolom abu yang tinggi, memunculkan kembali trauma masyarakat terhadap tragedi tsunami Selat Sunda pada 2018.

Pertanyaan pun berkembang di tengah masyarakat: Apakah aktivitas Anak Krakatau kali ini dapat memicu gempa besar dan tsunami?

Jawabannya perlu dilihat secara hati-hati berdasarkan sejarah dan informasi resmi dari lembaga yang berwenang.

Dikutip dari berbagai sumber Kisah Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari sejarah dahsyat Gunung Krakatau.

Pada tahun 1883, Gunung Krakatau mengalami salah satu letusan paling dahsyat dalam sejarah modern. Erupsi tersebut memicu tsunami besar yang menerjang wilayah pesisir Selat Sunda dan menyebabkan puluhan ribu korban jiwa.

Peristiwa tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau. Namun, alam kemudian kembali membangun kehidupan vulkaniknya.

Beberapa dekade setelah letusan besar itu, tepatnya sekitar tahun 1927, muncul gunung api baru dari kawasan kaldera Krakatau. Gunung api inilah yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan dan aktivitas vulkanik.

Tsunami 2018, Luka yang Belum Dilupakan

Kekhawatiran masyarakat terhadap Anak Krakatau bukan tanpa alasan.

Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau mengalami longsor besar setelah aktivitas vulkanik. Material dalam jumlah besar jatuh ke laut dan memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.Ratusan orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Yang membuat tragedi ini begitu mengejutkan adalah tsunami tersebut bukan dipicu oleh gempa bumi tektonik besar, melainkan berkaitan dengan longsoran tubuh gunung api ke laut. 

BMKG mencatat sistem peringatan tsunami saat itu terutama dirancang untuk mendeteksi tsunami akibat gempa tektonik, sehingga peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi sistem mitigasi bencana di Indonesia. 

Memasuki tahun 2026, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat.

Badan Geologi sebelumnya menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026. Peningkatan tersebut dilakukan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik, termasuk emisi gas, anomali panas, hingga peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik. 

Aktivitas kemudian terus berkembang hingga awal September 2026.

Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi pada 5 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava dan menghasilkan aliran lava serta aktivitas lontaran material vulkanik. 

Aktivitas erupsi bahkan berdampak luas terhadap penerbangan dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah pada 6 September 2026. Abu vulkanik dilaporkan menyebar cukup luas sehingga mengganggu sejumlah penerbangan. 

Apakah Akan Terjadi Gempa Besar?

Inilah pertanyaan yang paling banyak muncul.Aktivitas Anak Krakatau dan gempa bumi besar merupakan dua fenomena yang tidak dapat secara otomatis disamakan.

Gunung api memang memiliki aktivitas kegempaan vulkanik akibat pergerakan magma dan tekanan di dalam tubuh gunung. Namun, aktivitas tersebut tidak berarti Anak Krakatau dapat dipastikan akan memicu gempa tektonik besar.

Gempa besar biasanya berkaitan dengan pergerakan lempeng bumi dan aktivitas patahan. Sementara aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat ini dipantau berkaitan dengan proses vulkanik.

Hingga saat ini, tidak ada dasar ilmiah yang memungkinkan seseorang memastikan bahwa aktivitas erupsi Anak Krakatau akan diikuti oleh gempa bumi tektonik besar.

Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati terhadap berbagai narasi di media sosial yang menghubungkan erupsi dengan prediksi pasti akan terjadinya gempa besar.

Lalu, Bagaimana dengan Ancaman Tsunami?

Ini menjadi bagian paling penting dari kekhawatiran masyarakat.

Sejarah membuktikan bahwa aktivitas Anak Krakatau memang memiliki potensi bahaya tsunami, khususnya apabila terjadi perubahan besar dan mendadak pada struktur tubuh gunung, seperti longsoran besar yang masuk ke laut.

Namun, berdasarkan evaluasi terbaru Badan Geologi hingga 5 September 2026, pertumbuhan tubuh Anak Krakatau setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil dan belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. 

Penilaian serupa juga disampaikan BNPB berdasarkan hasil evaluasi PVMBG. Masyarakat diimbau untuk tidak panik karena, berdasarkan kondisi yang dipantau saat ini, belum terdapat indikasi keruntuhan besar tubuh gunung yang dapat memicu tsunami. 

Artinya, hingga hari ini belum ada informasi resmi yang menyatakan tsunami akan terjadi akibat aktivitas Anak Krakatau saat ini.

Tetap Waspada, Jangan Panik

Meski belum terdapat ancaman tsunami berdasarkan evaluasi terbaru, masyarakat tetap diminta tidak menganggap aktivitas Anak Krakatau sebagai sesuatu yang biasa.

Gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan dan nelayan diminta mematuhi rekomendasi resmi, termasuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. 

Ancaman yang saat ini lebih menjadi perhatian adalah aktivitas erupsi, aliran lava, lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik.

Masyarakat juga harus mewaspadai informasi palsu. Badan Geologi sebelumnya telah mengonfirmasi adanya video dan informasi mengenai aktivitas Anak Krakatau yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya atau merupakan hoaks. 

Sejarah Krakatau mengajarkan satu hal penting: alam tidak bisa diremehkan, tetapi juga tidak boleh dihadapi dengan kepanikan dan informasi yang tidak terverifikasi.

Tragedi 1883 menjadi bukti dahsyatnya kekuatan alam. Sementara tsunami 2018 mengingatkan bahwa bencana tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah diprediksi.

Namun, setiap aktivitas vulkanik tidak serta-merta berarti bencana besar akan segera terjadi.

Apakah Anak Krakatau akan kembali memicu tsunami? Apakah akan terjadi gempa besar?

Untuk saat ini, tidak ada pihak yang dapat memastikan terjadinya gempa atau tsunami di masa depan. Yang dapat dilakukan adalah terus memantau perkembangan berdasarkan data ilmiah.

Hingga 6 September 2026, informasi resmi menunjukkan aktivitas Anak Krakatau memang sedang tinggi, tetapi hasil evaluasi Badan Geologi menyatakan belum terdapat potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala besar yang dapat memicu tsunami. 

Masyarakat diminta tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti perkembangan dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, BNPB dan pemerintah daerah.

Bukan untuk Menakut-nakuti, tetapi untuk Mengingatkan, Anak Krakatau adalah bagian dari sejarah panjang Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan dengan aktivitas geologi tinggi.

Kewaspadaan adalah hal yang penting. Tetapi kewaspadaan berbeda dengan kepanikan.

Saat gunung api menggeliat, masyarakat membutuhkan informasi yang cepat. Ketika isu tsunami beredar, masyarakat membutuhkan informasi yang akurat. Dan ketika ketakutan mulai menyebar, masyarakat membutuhkan penjelasan berdasarkan ilmu pengetahuan.

Sebab dalam menghadapi alam, **kepanikan tidak menyelamatkan manusia. Kesiapsiagaanlah yang dapat mengurangi risiko.**

(Idnas)

  • Penulis: redaksikabarkabarin@gmail.com

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wali Kota Pangkalpinang Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila

    Wali Kota Pangkalpinang Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
    • visibility 8
    • 0Komentar
    Bagikan

    BagikanPANGKALPINANG, KABARKABARIN.COM – Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin bertindak sebagai pembina Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Kamis (1/10/2026). Dalam amanatnya, Prof. Saparudin menyampaikan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa serta jasa para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam mempertahankan ideologi negara. Menurutnya, nilai-nilai luhur […]

  • Pemerintah Batasi Outsourcing, Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 Perkuat Perlindungan Pekerja

    Pemerintah Batasi Outsourcing, Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 Perkuat Perlindungan Pekerja

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
    • visibility 76
    • 0Komentar
    Bagikan

    BagikanKABARKABARIN.COM, JAKARTA – Pemerintah resmi menetapkan aturan baru terkait praktik alih daya (outsourcing) melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 7 Tahun 2026 yang mulai berlaku sejak 30 April 2026. Regulasi ini membatasi jenis pekerjaan yang dapat dialihdayakan sekaligus memperkuat perlindungan tenaga kerja dan tata kelola hubungan industrial. Dalam ketentuan tersebut, praktik alih daya hanya diperbolehkan […]

  • Gubernur Babel Dorong Rumah Tony Wen Jadi Museum, PT Timah Diminta Hibahkan Aset Bersejarah

    Gubernur Babel Dorong Rumah Tony Wen Jadi Museum, PT Timah Diminta Hibahkan Aset Bersejarah

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
    • visibility 10
    • 0Komentar
    Bagikan

    BagikanPANGKALPINANG, KATABABEL.COM — Rumah eks kediaman tokoh nasional Tony Wen didorong untuk dialihfungsikan menjadi museum sejarah Bangka Belitung. Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani. Hal itu mencuat saat Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bangka melakukan audiensi dengan Hidayat Arsani di Rumah Dinas Gubernur Babel, Kamis (1/10/2026), bertepatan […]

  • Ayah Vanessa Angel, Doddy Sudrajat (kanan) memberikan keterangan pada media, di rumah duka, di Kembangan, Jakarta Barat, Kamis (4/11). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

    Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala

    • calendar_month Senin, 13 Des 2021
    • account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
    • visibility 368
    • 0Komentar
    Bagikan

    BagikanLorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ipsum nunc aliquet bibendum enim facilisis gravida. Fusce ut placerat orci nulla pellentesque dignissim. Faucibus a pellentesque sit amet. Semper quis lectus nulla at volutpat diam ut. Sapien eget mi proin sed libero enim sed faucibus […]

  • The Best Productivity Tools for Remote Work

    The Best Productivity Tools for Remote Work

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
    • visibility 382
    • 0Komentar
    Bagikan

    BagikanAs the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Perjuangkan Manfaat Investasi untuk Rakyat, Gubernur Babel Kawal Plasma PT GML

    Perjuangkan Manfaat Investasi untuk Rakyat, Gubernur Babel Kawal Plasma PT GML

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
    • visibility 4
    • 0Komentar
    Bagikan

    BagikanBANGKA, KABARKABARIN.COM – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendorong percepatan realisasi program plasma 20 persen PT Gunung Maras Lestari (GML) bagi masyarakat di delapan desa yang tersebar di Kecamatan Bakam, Puding Besar, dan Pemali, Kabupaten Bangka. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan penyerahan lahan plasma kepada masyarakat bertempat di Lapangan Bola […]

expand_less