Kadisdikbud Pangkalpinang Apresiasi Peran INTI Babel dan Paparkan Upaya Tangani Anak Tidak Sekolah
- account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
- calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
- visibility 7
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PANGKALPINANG, KATABABEL.COM – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pangkalpinang, Erwandi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan sosial yang dilakukan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bangka Belitung dalam membantu dunia pendidikan, khususnya bagi siswa kurang mampu.
Menurut Erwandi, kegiatan pembagian bantuan alat tulis yang dilaksanakan INTI Babel memberikan manfaat nyata bagi peserta didik, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh INTI. Ini sangat bermanfaat bagi anak didik kita, karena tidak semua siswa berada dalam kondisi ekonomi yang cukup. Bantuan ini tentu sangat berarti,” ujarnya saat menghadiri peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang diselenggarakan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bangka Belitung di Bangka City Hotel, Sabtu (2/5/2026).
Ia juga menilai bahwa INTI Babel memiliki rekam jejak yang baik dalam membantu masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial yang konsisten dilakukan di Kota Pangkalpinang.
“Kami dari Dinas Pendidikan sangat berterima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan INTI. Selama ini, kontribusi mereka nyata dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Erwandi menekankan bahwa kemajuan pendidikan tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Diperlukan kolaborasi dan kepedulian dari berbagai pihak untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan.
“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Perlu kebersamaan semua pihak. Apa yang dilakukan INTI ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat bisa ikut berkontribusi dalam memajukan pendidikan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Erwandi juga memaparkan program penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang tengah dijalankan Disdikbud Pangkalpinang. Ia menyebutkan, pihaknya активно melakukan pendataan dan intervensi terhadap anak-anak yang putus sekolah dengan melibatkan berbagai pihak.
“Kami melakukan inventarisasi anak tidak sekolah bekerja sama dengan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) di setiap kelurahan. Total ada 42 PSM yang dilibatkan untuk mengidentifikasi anak-anak yang putus sekolah,” ungkapnya.
Selain itu, Disdikbud juga menggandeng aparat kepolisian, salah satunya melalui kerja sama dengan Polsek Gerunggang, untuk mendata anak-anak yang tidak bersekolah di wilayah tersebut.“Anak-anak ini kami arahkan kembali ke pendidikan formal maupun non-formal melalui program PKBM, seperti paket A, B, dan C sesuai dengan jenjangnya,” jelas Erwandi.
Dari hasil pendataan, terdapat sekitar 167 anak yang masuk kategori Anak Tidak Sekolah. Namun, tidak seluruhnya bersedia kembali mengenyam pendidikan.
“Kami sudah melakukan pendekatan, dan sekitar 68 anak telah kami bantu melalui program beasiswa. Masing-masing mendapatkan bantuan sebesar Rp1 juta untuk mendukung pendidikan mereka,” katanya.
Erwandi mengungkapkan, faktor utama penyebab anak tidak sekolah di Pangkalpinang didominasi oleh persoalan ekonomi dan kondisi keluarga, seperti broken home.
“Banyak anak pendatang yang terkendala ekonomi, itu menjadi faktor utama. Selain itu, kondisi keluarga juga sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pendidikan anak,” pungkasnya.
- Penulis: redaksikabarkabarin@gmail.com




