Formap Babel Sulap Limbah Jadi Pupuk, Bambang Pati Jaya Dorong Jadi Proyek Percontohan Nasional
- account_circle redaksikabarkabarin@gmail.com
- calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
- visibility 43
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PANGKALPINANG, KABARKABARIN.COM – Forum Masyarakat Petani (Formap) Bangka Belitung terus berinovasi dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus mendukung sektor pertanian. Melalui program pengelolaan limbah terintegrasi, Formap Babel berhasil mengolah limbah menjadi Pupuk PUFA, sebuah pupuk yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Program bertema “Menjaga Lingkungan Adalah Tugas Kita Bersama” tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Komisi XII DPR RI, Dr. Bambang Pati Jaya, S.E., M.M., yang hadir langsung dalam kegiatan di Pangkalpinang.
Dalam kesempatan itu, Bambang menyerahkan bantuan 15 unit motor roda tiga kepada sejumlah kelompok di Bangka Belitung. Kendaraan tersebut akan digunakan untuk mempercepat pengumpulan limbah yang nantinya diolah menjadi pupuk organik.
Ketua Umum Formap Babel, M. Syarif Hidayatullah, mengaku bantuan tersebut merupakan dukungan nyata yang selama ini dinantikan para pegiat pengelolaan limbah di Bangka Belitung.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bambang Pati Jaya yang telah memperjuangkan bantuan motor roda tiga dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ini pertama kalinya ada anggota DPR RI yang memperjuangkan bantuan seperti ini untuk Formap Babel,” ujarnya.
Menurut Syarif, keberadaan motor roda tiga akan mempercepat proses pengambilan sampah dari masyarakat sehingga pengelolaan limbah menjadi lebih efektif.
“Selama ini memang belum ada inisiatif seperti ini. Dengan adanya motor roda tiga, kami bisa bergerak lebih cepat dalam mengumpulkan limbah untuk diolah menjadi pupuk. Ini sangat membantu masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Bambang Pati Jaya menegaskan bahwa anggaran yang dialokasikan melalui kementerian mitra Komisi XII DPR RI, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Melalui penganggaran tersebut, kami ingin berbagai program kementerian benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Bambang.
Ia menilai penyelesaian persoalan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat melalui penerapan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).
Selain itu, Bambang mengapresiasi inovasi Formap Babel yang memanfaatkan limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) atau sisa pembakaran batu bara menjadi pupuk majemuk biologis yang bermanfaat bagi sektor pertanian.
Menurutnya, inovasi tersebut merupakan bentuk nyata hilirisasi karena limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai mampu diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Saya meminta PLN untuk memberikan perhatian terhadap program ini. Ini bagian dari hilirisasi yang patut didukung karena limbah batu bara ternyata bisa dimanfaatkan untuk pertanian,” ujarnya.
Bahkan, Bambang berharap inovasi yang dikembangkan Formap Babel dapat menjadi proyek percontohan nasional dalam pengelolaan limbah berbasis masyarakat.
“Yang dilakukan Formap Babel ini saya ingin menjadi proyek percontohan nasional. Saya berharap kegiatan ini benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Bangka Belitung sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain,” tegasnya.
Melalui inovasi tersebut, Formap Babel tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi persoalan sampah, tetapi juga mendorong lahirnya ekonomi sirkular yang mendukung pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis: redaksikabarkabarin@gmail.com




